Gedung SMK Muhammadiyah 6 Donomulyo

Jl. Trisula NO. 3 Donomulyo

Kepala Sekolah dan Wakil kepala sekolah

SMK Muhammadiyah 6 donomulyo

Siswi Teknik Komputer dan jaringan

SMK Muhammadiyah 6 Donomulyo

Guru Dan Karyawan

Dalam Rangka Wisusa

Hotspot Area

Menikmati Internetan secara Gratis

Sunday, 23 February 2014

UJI KOMPETENSI KEAHLIAN 2013/2014

alhamdulilah Selesai sudah pelaksanaan Ujian Praktik Sekolah di SMK Muhammadiyah 6 donomulyo  selama dua minggu. Ujian yang diselenggarakan oleh  Ketiga jurusan  kompetensi keahlian yaitu teknik kendaraan riggan, teknik sepeda motor, dan teknik komputer dan jaringan.


Wednesday, 19 June 2013

Struktur Organisasi SMK Muhammadiyah 6 Donomulyo

SMK MUHAMMADIYAH 06 Donomulyo

MAJELIS PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH MUHAMMADIYAH

SMK MUHAMMADIYAH 06 DONOMULYO


STATUS TERAKREDITASI “A”

NSS: 324051828011 NDS: E-13284301 NPSN : 20517763
BIDANG STUDI KEAHLIAN : 1. TEKNIK OTOMOTIF 2. TEKNIK KOMPUTER DAN INFORMATIKA

KOMPETENSI KEAHLIAN :

1.TEKNIK KENDARAAN RINGAN   2. TEKNIK SEPEDA MOTOR    3. TEKNIK KOMPUTER DAN JARINGAN
JL. TRISULA NO. 3 TELP (0341) 881047 –  Fax (0341) 881778


DONOMULYO KAB. MALANG 65167


DATA BASE SMK MUHAMMADIYAH 6 DONOMULYO

KABUPATEN MALANG


1.    Nama Sekolah                                : SMK Muhammadiyah 6 Donomulyo
Alamat                                            : Jl. Trisula No.3 Donomulyo Kab. Malang
Telepon/Fax                                    : 0341-881047, Fax. 0341-881778
E-mail                                             : smkm6_donomulyo@yahoo.com

2.    Kepala Sekolah                              : Sukamto, S.Pd.
Telepon/HP                                    : 03414420687
3.    Struktur Sekolah                            : 

4. Jurusan : 

a. Prgram Keahlian :

  1. Teknik Otomotif
  2. Teknik Komputer dan Informatika

 b. Kompetensi Keahlian : 

  1. Teknik Kendaraan Ringan 
  2. Teknik Sepeda Motor 
  3. Teknik Komputer dan Jaringan

Sunday, 16 June 2013

Album Kenangan Tahun pelajaran 2013-2013 SMK Muhammadiyah 6 Donomulyo



P R A K A T A
 KEPALA SMK MUHAMMADIYAH 6 DONOMULYO
Dengan rasa syukur kepada Allah SWT. kita telah merasakan kebahagiaan dan kenikmatan yang tiada batasnya, seperti yang baru kita peroleh berupa kesuksesan dalam menempuh Ujian Nasional. Semoga dengan hasil yang sudah kita capai ini bisa bermanfaat untuk umat masnusia dan alam sekitarnya. Tantangan masa depan bukannya makin kecil mungkin malahan makin berat. Pengaruh media masa sebagai sarana komunikasi sangatlah besar di era sekarang ini . Lihatlah jarang kita jumpai tayangan TV memberikan pencerahan tentang pendidikan. Televisi sering menayangkan kekerasan fisik psikologis, demo yang anarkis. Tantangan yang sudah sangat banyak. kondisi fisik, sarana dan prasarana yang terbatas merupakan salah satu kenyataan. Masih banyak kesulitan lainnya, memang kesulitan dan beban itu tak dapat dipungkiri, melainkan harus dihadapi, diolah dan dicari solusi terbaik yang memungkinkan. Kita harus bekerja keras, mencari peluang, meningkatkan kekuatan untuk bisa bertahan bahkan berkembang lebih baik lagi. Tekad harus kuat, strategi harus jelas dan jeli, cinta harus besar, kerja sama sebagai suatu team harus dipraktikan. Pengalaman yang ada telah mengajarkan kepada kita, bahwa sekolah kita bertahan karena dukungan dan keterlibatan banyak pihak. Sekolah-sekolah Muhammadiyah membutuhkan cinta yang nyata tanpa banyak kata. Keberadaan SMK Muhammadiyah 6 Donomulyo di daerah pedesaan telah membuktikan bahwa sekolah ini mampu bertahan. Untuk apa bertahan ? Kita bertahan untuk pelayanan. Pelayanan untuk anak-anak bangsa kita di pedesaan. Mereka berhak memperoleh pendidikan secara layak, ketulusan, kejujuran, ketertiban dan kedisiplinan. Perjalanan ke puncak prestasi masih panjang dan membutuhkan dukungan kita sekalian. Dukungan yang nyata dan bukan retorika kata. Kita memperoleh pelayanan pendidikan dari sekolah ini, bagaimana sekarang, apa yang bisa kita berikan bagi sekolah ini pula. Mari kita wujudkan cinta kita bersama-sama yang Insya Allahi bisa menjadi kekuatan besar. Amin.
Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 6 Donomulyo 
wakil Kepala sekolah beserta guru dan karyawan SMK Muhammadiyah 6 Donomulyo 
Siswa dan siswi SMK Muhammadiyah 6 donomulyo
Jurusan teknik komputer dan jaringan
Teknik kendaraan ringan
dan teknik sepeda Motor

Saturday, 15 June 2013

Cerita Seorang Guru

MENJADI guru, bukanlah pekerjaan mudah. Didalamnya, dituntut pengabdian, dan juga ketekunan. Harus ada pula kesabaran, dan welas asih dalam menyampaikan pelajaran. Sebab, sejatinya, guru bukan hanya mendidik, tapi juga mengajarkan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menjalankannya. Menjadi guru juga bukan sesuatu yang gampang. Apalagi, menjadi guru bagi anak-anak yang mempunyai “keistimewaan”. Dan saya, merasa beruntung sekali dapat menjadi guru mereka, walau cuma dalam beberapa jam saja. Ada kenikmatan tersendiri, berada di tengah anak-anak dengan latar belakang cerebral palsy (sindroma gangguan otak belakang). Suatu ketika, saya diminta untuk mendampingi seorang guru, di sebuah kelas khusus bagi penyandang cacat. Kelas itu, disebut dengan kelas persiapan, sebuah kelas yang berada dalam tingkatan awal di YPAC Jakarta. Lazimnya, anak-anak di sana berumur antara 9-12 tahun, tapi kemampuan mereka setara dengan anak berusia 4-5 tahun, atau kelas 0 kecil. Kelas tampak ramai. Mereka rupanya sedang bermain susun bentuk dan warna. Ada teriak-teriakan ganjil yang parau, dan hentakan-hentakan kepala yang konstan dari mereka. Ada pula tangan-tangan yang kaku, yang sedang menyusun keping-keping diagram. Disana-sini terserak mainan kayu dan plastik. Riuh. Bangku-bangku khusus berderak-derak, bergesek dengan kursi roda sebagian anak yang beradu dengan lantai. Saya merasa canggung dengan semua itu. Namun, perasaan itu hilang, saat melihat seorang guru yang tampak begitu telaten menemani anak-anak disana. “Mari masuk, duduk sini dekat Si Abang, dia makin pinter lho bikin huruf,” begitu panggilnya kepada saya. Saya berjalan, melewati anak-anak yang masih sibuk dengan tugas mereka. Ah benar saja, si Abang, anak berusia 11 tahun yang mengalami cerebral palsy dengan pembesaran kepala itu, tampak tersenyum kepada saya. Badannya melonjak-lonjak, tangannya memanggil-manggil seakan ingin pamer dengan kepandaiannya menyusun huruf. Subhanallah, si Abang kembali melonjak-lonjak. Saya kaget. Saya tersenyum. Dia tergelak tertawa. Tak lama, kami pun mulai akrab. Dia tak malu lagi dibantu menyusun angka dan huruf. Susun-tempel-susun-tempel, begitu yang kami lakukan. Ah, saya mulai menikmati pekerjaan ini. Dia pun kini tampak bergayut di tangan saya. Tanpa terasa, saya mengelus kepalanya dan mendekatkannya ke dada. Terasa damai dan hangat. Sementara di sudut lain, sang Ibu guru tetap sabar sekali menemani semua anak disana. Dituntunnya tangan anak-anak itu untuk meniti susunan-susunan gambar. Dibimbingnya setiap jemari dengan tekun, sambil sesekali mengajak mereka tersenyum. Tangannya tak henti mengusap lembut ujung-ujung jemari lemah itu. Namun, tak pernah ada keluh, dan marah yang saya dengar. Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini, waktunya untuk pulang. Setelah membereskan beberapa permainan, anak-anak pun bersiap di bangku masing-masing. Damai sekali melihat anak-anak itu bersiap dengan posisi serapih-rapihnya. Tangan yang bersedekap diatas meja, dan tatapan polos kearah depan, saya yakin, membuat setiap orang tersenyum. Ibu guru pun mulai memimpin doa, memimpin setiap anak untuk mengatupkan mata dan memanjatkan harap kepada Tuhan. Damai. Damai sekali mata-mata yang mengatup itu. Teduh. Teduh sekali melihat mata mereka semua terpejam. Empat jam sudah saya bersama “malaikat-malaikat” kecil itu. Lelah dan penat yang saya rasakan, tampak tak berarti dibanding dengan pengalaman batin yang saya alami. Kini, mereka bergerak, berbaris menuju pintu keluar. Tampak satu persatu kursi roda bergerak menuju ke arah saya. Ddduh, ada apa ini? Lagi-lagi saya terharu. Setibanya di depan saya, mereka semua terdiam, mengisyaratkan untuk mencium tangan. Ya, mereka mencium tangan saya, sambil berkata, “Selamat siang Pak Guru..” Ah, perkataan yang tulus yang membuat saya melambung. Pak guru…Pak Guru, begitu ucap mereka satu persatu. Kursi roda mereka berderak-derak setiap kali mereka mengayuhnya menuju ke arah saya. Derak-derak itu kembali membuat saya terharu, membayangkan usaha mereka untuk sekedar mencium tangan saya. Anak yang terakhir telah mencium tangan saya. Kini, tatapan saya bergerak ke samping, ke arah punggung anak-anak yang berjalan ke pintu keluar. Dalam diam saya berucap, “..selamat jalan anak-anak, selamat jalan malaikat-malaikat kecilku…” Saya membiarkan airmata yang menetes di sela-sela kelopak. Saya biarkan bulir itu jatuh, untuk melukiskan perasaan haru dan bangga saya. Bangga kepada perjuangan mereka, dan juga haru pada semangat yang mereka punya. Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung. Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan. Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik mereka. Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia? Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru. Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu, dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang berbeda disana. Cobalah. Rasakan. (**) http://radar-sulbar.com/opini/cerita-seorang-guru/